Hari raya Idul Fitri 1431 / 2009

Assalammu’alaikum warahamtullah…

Lebaran Idul Fitri telah berlalu, untuk mengobati rasa rindu pada keluarga, saya dan teman-teman penerima beasiswa aceh gelombang pertama, merayakan lebaran bersama di Marbug. Marburg merupakan kota dimana kami pertama sekali berkumpul sebelum berpisah-pisah ke berbagai kota yang berbeda-beda.

Saya berangkat bersama teman dari daerah lain, Stuttgart, ada mery, ada b’taufik dan b’mulkal, serta juga ada teman anak Indonesia lain. (lupa namanya,:D).  Walaupun jauh, kira-kira menempuh waktu 5  jam lebih, karena kami harus ke Stuttgart dulu, untuk menjemput teman-teman yang lain. Maklum, cari cara murah berangkat bersama-sama. Kami pakai tiket “weekend”, jadi bisa berbagi bersama teman lain, jadinya murah.

Sampai ke Marburg siang menjelang sore. Alhamdulillah sampai dengan selamat. Walaupun capek, tetapi tidak menjadi masalah, karena berkumpul bersama dan merayakan bersama,:)

Keesokan harinya, kami shalat bersama yang di selenggarakan oleh pengurus mesjid setempat. Yang kebetulan rame orang arab nya. Tidak seperti shalat biasanya, dilaksanakan di mesjid, kali ini dilaksanakan di gedung, mereka menyewa gedung. Ternyata suasananya sama seperti di Aceh, rame, terus ada anak-anak yang nangis, lari-lari…pokoknya sama lah…:)

Pulang dari shalat, kami berkumpul lagi diasrama, terus, ini yang paling penting, saling memaafkan dan…coba tebak apa selanjutnya,..acara makan2…:D, enak…dimasikan rendang, lontong, dll…pokoknya enak lah…serasa di negeri sendiri…:D

Kami hanya sebentar di marburg, siangnya kami harus kembali, karena besoknya harus masuk kuliah lagi. Tidak apa-apalah, walaupun sebentar, tetapi menyenangkan..:)

Setelah itu, baru teringat keluarga, terus ya…sedih deh…:(,

Semoga amal ibadah kami diterima oleh Allah swt. aamin..

Advertisements

Perjalan menuju Jerman

Assalammu’alaikum warahmatullah..

Catatan ini mungkin bisa bermanfaat bagi teman-teman sekalian.

Perjalanan ini dimulai dari 2 Agustus 2009, itulah tanggal kami berangkat bandara Internasional Sultan Iskandar Muda Banda Aceh menuju German. Perjalanan jauh yang menghabiskan waktu lebih dari 10 jam ini kami lewati dengan ceria, walaupun ada diantara kami yang kelihatan lelah.

Pukul 07:30 (kira2), kami berangkat dengan pesawat Lion menuju Medan untuk seterusnya pukul 16 lewat menggunakan Malaysia Airlines berangkat menuju Malaysia.  Dari Malaysia kami meneruskan perjalanan dengan maskapai yang sama (Malaysia Airlines) menuju Frankfurt, German. Perjalanan dari Malaysia menuju Frankfurt dimulai pukul 23:50 dan tiba di Frankfurt, German, pukul 06:30. Perjalanan ini juga perjalanan yang sama yang pernah saya lakukan sekitar 4 tahun lalu, tetapi waktu itu saya via Jakarta menuju Malaysianya. Gate keberangkatan juga, gate yang sama ketika 4 tahun lalu, ternyata tidak berubah..,:)

Kami tiba awal di KL, waktu tersebut kami manfaatkan untuk beristirahat sejenak, sebagaian ada juga yang memanfaatkan waktu untuk on-line,:), Perjalannan sesungguhnya baru kan dimulai pukul 23:50, menuju Frankfurt. Ketika tiba waktunya, kami semua menaiki pewasat. Ada perbedaan dengan pesawat dengan yang saya naik 4 tahun lalu, kali ini penumpangnya lebih ramai, kalau dulu sedikit, tidak ramai, sehingga kami bisa memilih tempat duduk dimana saja, dan bisa tidur seperti di tempat tidur. Kali ini tidak bisa, harus duduk ditempat masing-masing,:), Perjalanan langsung, tidak ada transit.

Kami dapat makan di dalam pesawat, 2x kalau tidak salah. Em…lumayah lah, minum juga dapat di dalam pesawat, boleh tambah. Selain itu diberikan headset (karena pesawatnya ada fasilitas multimedia), terus juga selimut,:), Saya tidak bisa tidur…tapi berusaha untuk tidur, istilah tidur ayam, tidak menikmati tidurnya, tetapi hanya sekedar menghilangkan kantuk saja,:), Keesokan paginya, kami tiba di Frankfur, German. Kalau di kalkulasikan, sebenarnya kami sudah melakukan perjalanan selama 12 jam, kurang lebih dari Malaysia – Frankfurt, karena ada perbedaan waktu,:), Bagi sebagian kawan yang tidak terbiasa dengan perjalanan jauh dan ditambah lagi dengan perbedaan waktu 5 jam antara Indonesia – German, capek memang sudah resiko. Bagi yang fisiknya lumayan kuat, ya…bolehlah bertahan,:)

Sesampai di Frankfurt, kami di jemput oleh perwakilan DAAD. Oya, kami semuanya ada 34 orang (penerima beasiswa pemda NAD gel-1 ke German).  Bayangin ramainya..dan semuanya berasal dari 1 provinsi, Aceh.,:).Masing-masing mempunyai impian yang Insya Allah akan dicapai dikemudian hari.Aamin. Kami selanjutnya menggunakan bus menuju kota tempat kami akan melanjutkan pelatihan bahasa selama 1 – 2 bulan. Nama kota tersebut Marburg, lebih kurang 1,5 jam menggunakan bus. Berhubung pada kelelahan, banyak yang memanfaatkannya untuk beristirahat,:)

Hari itu, senin, 3 Agustus, kami langsung ke kantor yang mengkoordinir kegiatan kami selama di Marburg, namanya S + W Marburg (Speak+Write). Kami mendapatkan penjelasan secara umum. Selanjutnya kami menuju penginapan, tepatnya asrama mahasiswa,:), Tetapi sebelum ke asrama, kami harus ganti bus dahulu, dengan bus lokal, nah ini dia “masalahnya”, karena rame yang bawa “lemari”, so bagasi busnya ngak muat dan di naikkan barangnya ke kursi penumpang,:), angkatnya juga…wah…”seru”…..:)

Setelah sampai di asrama mahasiswa, kami dibagi ke berapa komplek bangunan, kebetulan ada 3 komplek, saya kena yang di komplek 1 dan kamar paling bawah. Kamar yang menarik, dekat kamar mandi, dapat internet gatis, dekat halte em..asiklah…:),

Disinilah perjalan awal di German di mulai, dengan berbagai harapan dan impian,:), Kebersamaa kami mulai terjalin..apalagi memasuki suasana puasa, sehingga banyak hal-hal yang kami lewati bersama,:),

Salah satu hal menarik adalah mengenai beribadah, hal ini juga saya rasakan 4 tahun lalu. Harus dengan usaha yang keras untuk bisa melakukan hal tersebut. Mulai dari mengatur waktu, tempat ibadah yang terbatas dan jarak yang jauh. Disinilah kita akan merasakan indahnya iman, nikmatnya Islam, indanya negeri kita, :),

Hari demi hari berlalu dan berlalu…:)

Kuliah di Jerman

tentang proses kuliah di Jerman

Berbagi bersama

Dear All…

Assalammu’alaikum warahmatullah…

Ilmu kita peroleh bukanlah milik kita semata, tetapi titipan dari sang Pencipta untuk kita berbagi kepada mahkluk cipataannya lainnya. Tidak mungkin hanya karena kita berbagi ilmu kepada orang lain dan kita akan kehilangan ilmu kita. Jika kita berbagi terhadap ilmu kita, maka kita akan mendapatkan ilmu yang  lebih banyak lagi.

Ilmu merupakan amanah dari sang Pencipta dan akan diminta pertanggungjawabannya kelak di masa yang akan datang. Maka berbagilah walaupun itu hanya sedikit, dan tidak perlu sombong dengan ilmu yang sedikit ini.

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk menerima berbagai ilmu yang diberikan sehingga kita lebih mendekati diri kepada-Nya. Aamin

Wassalamwarahmatullah…

Razief

Aceh

Assalammu’alaikumwarahmatullah…

Aceh merupakan provinsi paling barat dalam kawasan Negara Republik Indonesia. Daerah ini merupakan satu-satunya daerah yang tidak pernah dikuasai oleh penjajah sejak perjuangan kemerdekaan dahulu. Kerajaan Aceh menurut sejarah sudah ada sebelum dinasti Usmaniyah di Turki (699 H – 1341 H), sudah berdiri kerjaan Islam di Aceh, Samudra Pasai yang dipimpin oleh Malik Al-Saleh yang meninggal pada tahun 1297 M.

Sejak jaman dahulu, Aceh dikenal sebagai daerah yang selalu bergejolak. Pada masa pemerintahan sultan Iskandar Muda, Aceh mencapai puncak kejayaannya dengan mengusai daerah sepanjang pesisir barat Minangkabau, Sumatera Timur hingga ke Perak semenanjung Malaysia. Pada masa pemerintahan Iskandar Muda beliau menikah dengan putri dari kesultanan Pahang, yang kemudian di kenal dengan “Putroe Phang”.

Hubungan diplomatic Aceh juga sudah terjalin sejak dahulu ke berbagai Negara. Misalnya ke Turki, Inggris, Belanda, Amerika, Italia, Negara-negara Arab dan lainnya. Bukti hubungan diplomatic ini dapat dilihat dengan dikirimnya berbagai cenderamata/hadiah dari negera-negara tersebut. Turki memberikan  meriam yang kemudian dikenal dengan “meriam lada sicupak”. Serta beberapa Negara lainnya.

Hubungan antara Aceh dan dunia luar tidak hanya berlangsung pada masa lalu, tetapi sampai sekarang juga terus berlangsung. Pada mushibah tsunami yang melanda Aceh beberapa waktu lalu, Aceh juga mendapatkan sejumlah bantuan dari Negara – Negara yang dulunya pernah juga membantu Aceh, seperti Turki, Arab Saudi, Negara-negara di Eropa dan Negara-negara di kawasan Asia. Pembangunan Aceh dewasa ini juga tidak terlepas dari bantuan Negara-negara tersebut.

Setelah musibah tsunami dan konflik yang berkepanjangan melanda Aceh, pemerintahan Aceh kini sedang berupaya membangun kembali Aceh ke masa yang lebih baik. Berbagai sector pembangunan menjadi perhatian pemerintahan Aceh sekarang, misalnya sector pendidikan dan sumber daya manusia, kebudayaan, politik, ekonomi dan berbagai sector lainnya.

Didalam sector pendidikan, Aceh sedang berusaha bangkit dari ketertinggalannya dengan 32 Provinsi lainnya. Sekarang di Aceh telah berdiri sekolah-sekolah unggul, baik itu atas bantuan Negara-negara donator, seperti Turki maupun atas biaya pemerintah pusat dan daerah. Di setiap kabupaten kini berdiri paling tidak 1 sekolah unggul. Sekolah-sekolah unggul ini telah menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di tinggkat nasional dan internasional, misalnya Olimpiade dan lain sebagainya.

Dalam pembangunan sumber daya manusia, Aceh telah mengirimkan dan memberikan bantuan beasiswa kepada ribuan pelajar, pegawai negeri sipil, swasta maupun yang baru selesai S-1 untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bentuk perhatian dalam pemberian beasiswa ini sudah dilakukan dengan beberapa Negara. Negara-negara tersebut diantaranya, German, Australia, Taiwan, Malaysia, Timur tengah dan beberapa Universitas dalam negeri. Program pemberian beasiswa ini sejalan dengan visi pemerintahan Aceh yang menargetkan sebanyak-banyaknya mahasiswa mengambil beasiswa ke luar negeri.

Di bidang ekonomi, Aceh sedang berusaha untuk bangkit dari keterpurukan ekonominya. Tingkat inflasi di Aceh bisa dibilang sedikit lebih tinggi dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi hal tersebut.

Selain itu, dibidang social budaya, pemerintah sedang menggalakan program “Visit Aceh 2010”. Di harapkan dengan program ini bias mendongkrak perekonomian di Aceh dan mengajak investor untuk menanamkan modalnya di Aceh.

Pembangunan dan kemajuan yang ingin dicapai Aceh, tidak terlepas dari keinginan keras rakyat Aceh untuk membangun kembali daerahnya dan menempatkan diri sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Selain itu juga berkat ridha Allah swt untuk kemajuan Aceh di masa yang akan datang. Aamin.